SEJARAH

timeline_pre_loader
Abad XIX-1949

Abad XIX

Sejak abad ke 19 Warga Wates telah bermukim di Kampung Wates, yang dimulai oleh H. Nur Karsim

1942

Jepang datang dan merebut kekuasaan atas Hindia Belanda dari Kerajaan Belanda. Jepang kemudian membuat beberapa pangkalan udara, satu diantaranya dibuat di Jatiwangi, Majalengka. Sekitar 500 meter dari Kampung Wates

1949

Setelah Jepang menyerah pada sekutu dan Indonesia meraih kemerdekaan, warga wates kemudian mulai kembali ke kampungnya. Menduduki kembali tanah kelahiranya.

Akhir 1949

PGT (Pasukan Gerak Tjepat) AURI mulai menduduki lapangan udara ex tentara Jepang. Namun mereka mengklaim desa-desa disekitarnya sebagai wilayah mereka dan mulai memasang patok. Termasuk di Kampung Wates.

1950-2007

1950

Berangkat ke Kemendagri Jakarta untuk mengadu dan menanyakan perihal penguasaan tanah warga oleh TNI-AU.

1950

Surat Edaran KEMENDAGRI No. 14 20/5/7  Tanggal 9 Mei Tahun 1950

Memerintahkan kepada Kepala Daerah untuk menyelesaikan persoalan Tanah dengan AURI. Semua tanah dan dahulu milik warga dan tidak diberi ganti rugi harus dikembalikan. Tanah yang telah digunakan untuk kepentingan umum seperti: sekolah, Dsb akan tetap digunakan untuk kepentingan umum.

1953

Pada tahun 1953, Kemendagri kembali membuat surat edaran yang berisi himbauan kepada para pihak yang berwenang untuk segera menyelesaikan masalah tanah yang terjadi. Namun, TNI AU RI kembali tidak merespon dan mengeluarkan aturan-aturan yang lebih detail, termasuk adanya besaran setoran sebesar 10% kepada TNI AU RI atas penggunaan tanah tersebut.

1972

R. Gandawijaya bersama PTPT (Panitian Tuntutan Penyelesaian Tanah) Mengajukan gugatan kepada pengadilan, namun tuntutan penggugat ditolak, Akan tetapi aksepsi tergugat (AURI) juga tidak diterima. Kemudian naik banding ke tingkat kasasi, namun hasil putusanya tidak diketahui.

Periode Selanjutnya

Masih dalam masa penelusuran

. . .